Tampilkan postingan dengan label ilmu ITK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu ITK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2013

Mekanisme Adaptasi Organisme Poikilotermik terhadap Suhu

Suatu organisme dapat tumbuh dan berkembang hanya dalam batas-batas kisaran toleransi, kondisi faktor-faktor abiotik, dan ketersediaan sumber daya tertentu saja. Batas-batas itu ditentukan oleh kemampuan makhluk hidup untuk menghadapi lingkungannya yaitu adaptasi fisiologis, struktur dan pola perilakunya (Odum, 1971). Hal ini sesuai dengan teori hukum minimum Liebig yang menyatakan bahwa fungsi suatu makhluk dikendalikan atau dibatasi oleh faktor lingkungan yang esensial atau oleh gabungan faktor yang ada di dalam jumlah yang paling tidak layak kecilnya. Faktor pembatas tersebut bukan hanya sesuatu yang tersedia dalam jumlah terlalu sedikit, seperti yang diusulkan oleh Liebig, tapi yang terlalu banyak sekalipun, misalnya intensitas cahaya dan panas dapat pula merupakan faktor pembatas (Soetjipto, 1992).


Dalam mengatur suhu tubuh (termoregulasi), dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sifat dariorganisme tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sehingga selama hidupnya suhu tubuh organisme tergantung pada suhu air laut tempat hidupnya disebut poikilotermik (Nybaken,1988). Bagi organisme poikilotermik, suhu air laut merupakan faktor  yang sangat berpengaruh bagi aktifitas metabolisme. Kapasitas panas yang besar dari air merupakan mekanisme penyangga yang baik apabila terjadi perubahan temperatur di udara secara tiba-tiba. Akibatnya ikan menjadi hewan yang relatif mempunyai sifat stenothermal (toleransinya terhadap suhu sangat sempit). Fenomena ini menunjukkan bahwa peranan temperatur lingkungan dalam suatu habitat merupakan hal yang penting (Kordi dan Tancung, 2007). Adaptasi yang dilakukan hewan ektoterm terhadap lingkungan adalah dengan tingkah lakunya. Contoh adaptasi yang dilakukan hewan ektoterm antara lain :
  1.      Ikan (Pisces)
Jika lingkungan panas adaptasi yang dilakukan ikan adalah dengan berenang ke perairan yang lebih dasar atau menuju ke tempat yang intensitas sinar matahari lebih sedikit seperti dibawah pepohonan.
2.      Katak (Amphibi)
Pada lingkungan yang panas hewan ini beradaptasi secara morfologi dengan cara menguapkan panas dari dalam tubuhnya . Sedangkan secara tingkah laku yan dilakukan katak adalah bersembunyi pada bongkahan tanah yang dianggap lebih rendah suhunya. Namun jika suhu lingkungan ekstrim panas katak menggunakannya untuk memaksimalkan reproduksinya. Dengan tujuan melestarikan spesiesnya. Telur yang dihasilkan ditempelkan pada daun atau ranting pohon. Ketika lingkungan sudah memungkinkan seperti pada saat musim penghujan, Maka telur tersebut akan berkembang menjadi berudu yang akhirnya akan menjadi katak dewasa yang baru.
3.      Belalang (Insecta)
Pada lingkungan panas belalang beradaptasi secara morfologi dengan cara mengubah warna tubuhnya. Secara tingkah laku yang dilakukan belalang adalah bersembunyi dabalik daun.
4.      Buaya (Reptile)
Buaya memiliki kulit yang tebal sehingga untuk beradaptasi pada lingkungan panas dia mengurangi penguapan dengan kulitnya yang tebal tersebut. Secara tingkah laku yang dilakukan buaya adalah dengan membuka mulut untuk menguapkan panas tubuhnya (Evaporasi).
5.      Ular
Secara tingkah laku ular melakukan adaptasi pada lingkungan panas dengan bersembunyi dibawah tanah atau dalam liangnya. Pada beberapa ular gurun adaptasi pada lingkungan panas dilakukan dengan berjalan karah menyamping bersudut sekitar 45o.

Pada invertebrata untuk dapat terus menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan mereka mengambil panas matahari di pagi hari dalam melakukan fungsi fisiologis metabolis untuk melakukan aktivitas gerakan tubuh. Pada Kelas Insecta terdapat dua strategi utama untuk kelangsungan hidup akibat ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan panas yang signifikan metabolik. Yang pertama migrasi, yaitu penghindaran yang lengkap dari suhu yang menimbulkan ancaman. Meareka mencari tempat yang mereka anggap lebih nyaman. Jika serangga tidak dapat bermigrasi, maka mereka harus menggunakan cara kedua, yaitu mereka harus tinggal dan beradaptasi dengan suhu. Tardigrada yang merupakan filum peralihan antara Annelida dengan Arthropoda memiliki kemampuan cryptobiosis, yaitu kemampuan untuk mempertahankan diri dalam lingkungan yang ekstrim, misalnya suhu yang dingin atau kekeringan.
DAFTAR PUSTAKA
Horwath KL and Duman JG (1982) Involvement of the Circadian System in Photoperiodic Regulation of Insect Antifreeze Proteins. The Journal of Experimental Zoology 219:267-270
Kordi dan Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta
Nybakken, J.W. 1988.  Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT. Gramedia
Odum,E.P. 1971. Fundamental of Ecology. Terjemahan. Tjahyono Samingan. 1993. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Soetjipto. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Jakarta: Depdikbud.

Rumput Laut Jadi Bahan Biofuel

Riset rumput laut yang dilakukan dari waktu ke waktu kian lebar menguak kegunaan tumbuhan air ini. Selama ini rumput laut telah banyak digunakan sebagai bahan baku beragam jenis produk, seperti pangan, farmasi, dan kosmetik. Namun belakangan ini mulai diketahui manfaat lain rumput laut, yaitu sebagai pereduksi emisi gas karbon dan bahan baku biofuel. Oleh karena itu, untuk mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini telah berlangsung, rumput laut harus dikembangkan pemanfaatannya sebagai sumber alternatif energi. Hal itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi saat memberi sambutan pada Indonesia Seaweed Forum I di Makassar Sulawesi Selatan, Selasa (28/10). Pertemuan itu diselenggarakan Indonesia Seeweed Society, Asosiasi Petani Rumput Laut Indonesia, Ikatan Fikologi Indonesia, dan Asosiasi Rumput Laut Indonesia.

Makroalga sebagai biodiesel, menurut Freddy, lebih kompetitif dibandingkan dengan komoditas lain. Sebagai perbandingan, makroalga (30 persen minyak) seluas 1 hektar dapat menghasilkan biodiesel 58.700 liter per tahun, sedangkan jagung 172 liter per tahun, dan kelapa sawit 5.900 liter per tahun. Selain itu, katanya, rumput laut juga bukan merupakan bahan konsumsi pokok harian dan budidayanya tidak memerlukan waktu yang lama. Sebagai daerah yang memiliki kawasan pesisir yang luas, apalagi berada di daerah tropis, Indonesia berpotensi menjadi produsen terbesar rumput laut di dunia. Menurut Freddy, saat ini ada areal seluas 1,1 juta hektar lebih yang berpotensi untuk budidaya rumput laut, tetapi yang termanfaatkan hanya 20 persen. Menanggapi harapan Freddy, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pihaknya akan menyediakan lahan yang memadai untuk budidaya rumput laut. Sulsel memiliki pesisir pantai sepanjang 2.000 kilometer dan hampir 1.000 jumlah pulaunya.

Revitalisasi perikanan 
Karena memiliki beberapa keunggulan, Freddy menambahkan, rumput laut pun dapat menjadi komoditas utama dalam program revitalisasi perikanan. Keunggulan itu antara lain peluang ekspornya masih terbuka luas, harganya relatif stabil, dan belum ada kuota perdagangan bagi rumput laut. Keunggulan lainnya, teknologi pembudidayaannya sederhana sehingga mudah dikuasai petani, siklus budidayanya relatif singkat sehingga cepat memberikan penghasilan dan keuntungan, kebutuhan modal relatif kecil, dan pembudidayaan rumput laut tergolong usaha padat karya. Di sisi lain, rumput laut ramah lingkungan dan tidak ada produk sintetisnya.

Dalam program revitalisasi budidaya rumput laut tahun 2009 ditargetkan tercapai produksi 1,9 juta ton. Untuk itu, Freddy menekankan perlunya penerapan pola pengembangan kawasan budidaya, terutama untuk komoditas Euchema dan Gracilaria. Luas lahan yang diperlukan sampai 2009 adalah 25.000 hektar, yakni 10.000 hektar untuk Gracilaria dan 15.000 hektar untuk Euchema. Untuk penyediaan bibit akan dikembangkan kebun bibit di sentra atau pusat pengembangan di Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, Sultera, Maluku, dan Papua. Selain itu, juga akan dilakukan pengaturan pola tanam dan penyediaan 150 unit mesin praproses untuk perbaikan mutu pascapanen. Dengan pengembangan ini, diperkirakan akan terserap 255.000 tenaga kerja.

Sabtu, 22 September 2012

Penginderaan Jarak Jauh Kelautan

Pengertian penginderaan jarak jauh adalah mendeteksi atau mengukur objek atau fenomena di bumi tanpa menyentuh objek itu sendiri dengan menggunakan gelombang (radiasi) elektromagnetik. Karakteristik penginderaan jarak jauh:
  • A global view (mencangkup area yang luas)
  • Long term monitoring (digunakan untuk memonitoring jangka panjang)
  • Spatially detail synoptic view (dapat mengambil data secara serentak pada area yang luas
  • Inaccurate: data tidak akurat karena dapat terjadi bias
  • Need calibration: memerlukan kalibrasi

 Gelombang electromagnetic pada penginderaan jarak jauh:
a)       Sinar tampak
Sinar tampak memiliki panjang gelombang 0.4 to 0.7 µm, yang dapat ditangkap oleh indera manusia. Kemampuan indera penglihatan manusia yang mampu mengenali kisaran panjang gelombang ini membuat berbagai interpretasi data atau citra satelit menggunakan metode dengan pendekatan konsep warna.
Warna
Panjang Gelombang (µm)
Ungu
0.400 - 0.446
Biru
0.446 - 0.500
Hijau
0.500 - 0.578
Kuning
0.578 - 0.592
Jingga
0.592 - 0.620
Merah
0.620 - 0.700

b)       Infra merah
Kisaran panjang gelombang infra merah adalah 0.7 µm sampai dengan 100 µm. Berdasarkan pada sumber energi dan sifat-sifatnya, gelombang infra merah dibagi menjadi:
-    Inframerah pantulan (reflected IR) spektral ini merupakan radiasi infra merah yang berasal bukan dari obyek penginderaan jauh atau sering didapatkan merupakan radiasi matahari pada kisaran infra merah yang dipantulkan oleh obyek. Panjang gelombangspektral ini berkisar antara 0.7 µm sampai 3.0 µm, sehingga penggunaannya dalam penginderaan jauh sering disamakan dengan spektral sinar tampak. Jika dilihat berdasarkan panjang gelombangnya, maka yang termasuk dalam spektral ini adalah inframerah dekat (Near Infrared-NIR) dan inframerah tengah (Middle Infrared-MIR)
-    Inframerah emisi/termal (emitte/thermal IR) spektral ini adalah suatu kisaran panjanggelombang dengan nilai energi yang dihasilkan dari emisi suatu obyek dalampenginderaan jauh. Dasar dari perhitungan atau pengukuran spektral ini adalah bahwasetiap benda yang mempunyai suhu permukaan diatas 0okelvin akan mengemisikan energy sebanding dengan derajat 4 dari suhu tersebut. Oleh karena itu, penggunaannya dalam penginderaan jauh berbeda dengan spektral infra merah pantulan ataupun dengan sinar tampak, karena spektral ini lebih mencirikan sifat suatu benda permukaan dalammengemisikan atau mengabsorbsi energi. Panjang gelombang spektral ini berkisar antara 3.0 µm sampai 100 µm dan disebut sebagai inframerah jauh (Far Infrared-FIR)

c)        Gelombang mikro
Perkembangan teknologi sensor penginderaan jauh telah menggunakan gelombang mikro pada kisaran yang panjang yaitu 1 mm sampai 1 m. Kisaran panjang gelombang spektral ini sering digunakan pada penginderaan jauh radar, karena transmisinya mampu menembus partikel-partikel atmosfer yang diamaternya lebih rendah dibandingkan dengan panjang gelombangnya.


Senin, 28 November 2011

Pemograman LCD 16x2 dengan BascomAVR


$regfile = "m8535.dat"      'mikrokontrolernya, disini saya pake ATMega8535 
$crystal = 4000000          'crystal yang digunakan berapa
 

Config Lcdpin = Pin , Db4 = Portc.4 , Db5 = Portc.5 , Db6 = Portc.6 , Db7 = Portc.7 , E = Portc.2 , Rs = Portc.0  'konfigurasi LCD ke mikronya
 

Config Lcd = 16 * 2         'Jenis LCD yang kita pake

Cls                        
'ini code buat ngapus LCD
Locate 1,1                  'kursor di baris 1 kolom 1           
Lcd "Van-Cuppy"             'yang ini buat nulis
Waitms 500                  'tunggu setengah detik

Locate 2,1                  'pindah ke baris 2 kolom 1
Lcd "Belajar LCD"           'yang ini buat nulis
Waitms 500                  'tunggu setengah detik
Cursor On                   'nyalain kursor
Cursor Off                  'matiin kursor

Kamis, 04 Agustus 2011

Mekanisme Adaptasi Organisme Poikilotermik Terhadap Suhu

Suatu organisme dapat tumbuh dan berkembang hanya dalam batas-batas kisaran toleransi, kondisi faktor-faktor abiotik, dan ketersediaan sumber daya tertentu saja. Batas-batas itu ditentukan oleh kemampuan makhluk hidup untuk menghadapi lingkungannya yaitu adaptasi fisiologis, struktur dan pola perilakunya (Odum, 1971). Hal ini sesuai dengan teori hukum minimum Liebig yang menyatakan bahwa fungsi suatu makhluk dikendalikan atau dibatasi oleh faktor lingkungan yang esensial atau oleh gabungan faktor yang ada di dalam jumlah yang paling tidak layak kecilnya. Faktor pembatas tersebut bukan hanya sesuatu yang tersedia dalam jumlah terlalu sedikit, seperti yang diusulkan oleh Liebig, tapi yang terlalu banyak sekalipun, misalnya intensitas cahaya dan panas dapat pula merupakan faktor pembatas (Soetjipto, 1992).

Dalam mengatur suhu tubuh (termoregulasi), dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sifat dariorganisme tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sehingga selama hidupnya suhu tubuh organisme tergantung pada suhu air laut tempat hidupnya disebut poikilotermik (Nybaken,1988). Bagi organisme poikilotermik, suhu air laut merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi aktifitas metabolisme. Kapasitas panas yang besar dari air merupakan mekanisme penyangga yang baik apabila terjadi perubahan temperatur di udara secara tiba-tiba. Akibatnya ikan menjadi hewan yang relatif mempunyai sifat stenothermal (toleransinya terhadap suhu sangat sempit). Fenomena ini menunjukkan bahwa peranan temperatur lingkungan dalam suatu habitat merupakan hal yang penting (Kordi dan Tancung, 2007).


Adaptasi yang dilakukan hewan ektoterm terhadap lingkungan adalah dengan tingkah lakunya. Contoh adaptasi yang dilakukan hewan ektoterm antara lain :
1. Ikan (Pisces)
Jika lingkungan panas adaptasi yang dilakukan ikan adalah dengan berenang ke perairan yang lebih dasar atau menuju ke tempat yang intensitas sinar matahari lebih sedikit seperti dibawah pepohonan.
2. Katak (Amphibi)
Pada lingkungan yang panas hewan ini beradaptasi secara morfologi dengan cara menguapkan panas dari dalam tubuhnya . Sedangkan secara tingkah laku yan dilakukan katak adalah bersembunyi pada bongkahan tanah yang dianggap lebih rendah suhunya. Namun jika suhu lingkungan ekstrim panas katak menggunakannya untuk memaksimalkan reproduksinya. Dengan tujuan melestarikan spesiesnya. Telur yang dihasilkan ditempelkan pada daun atau ranting pohon. Ketika lingkungan sudah memungkinkan seperti pada saat musim penghujan, Maka telur tersebut akan berkembang menjadi berudu yang akhirnya akan menjadi katak dewasa yang baru.
3. Belalang (Insecta)
Pada lingkungan panas belalang beradaptasi secara morfologi dengan cara mengubah warna tubuhnya. Secara tingkah laku yang dilakukan belalang adalah bersembunyi dabalik daun.
4. Buaya (Reptile)
Buaya memiliki kulit yang tebal sehingga untuk beradaptasi pada lingkungan panas dia mengurangi penguapan dengan kulitnya yang tebal tersebut. Secara tingkah laku yang dilakukan buaya adalah dengan membuka mulut untuk menguapkan panas tubuhnya (Evaporasi).
5. Ular
Secara tingkah laku ular melakukan adaptasi pada lingkungan panas dengan bersembunyi dibawah tanah atau dalam liangnya. Pada beberapa ular gurun adaptasi pada lingkungan panas dilakukan dengan berjalan karah menyamping bersudut sekitar 45o.



Pada invertebrata untuk dapat terus menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan mereka mengambil panas matahari di pagi hari dalam melakukan fungsi fisiologis metabolis untuk melakukan aktivitas gerakan tubuh.



Pada Kelas Insecta terdapat dua strategi utama untuk kelangsungan hidup akibat ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan panas yang signifikan metabolik. Yang pertama migrasi, yaitu penghindaran yang lengkap dari suhu yang menimbulkan ancaman. Meareka mencari tempat yang mereka anggap lebih nyaman. Jika serangga tidak dapat bermigrasi, maka mereka harus menggunakan cara kedua, yaitu mereka harus tinggal dan beradaptasi dengan suhu.



Tardigrada yang merupakan filum peralihan antara Annelida dengan Arthropoda memiliki kemampuan cryptobiosis, yaitu kemampuan untuk mempertahankan diri dalam lingkungan yang ekstrim, misalnya suhu yang dingin atau kekeringan.


DAFTAR PUSTAKA


Horwath KL and Duman JG (1982) Involvement of the Circadian System in Photoperiodic Regulation of Insect Antifreeze Proteins. The Journal of Experimental Zoology 219:267-270
Kordi dan Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT. Gramedia
Odum,E.P. 1971. Fundamental of Ecology. Terjemahan. Tjahyono Samingan. 1993. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Soetjipto. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Jakarta: Depdikbud.

Kamis, 30 Juni 2011

UNDERWATER ROV (Remotely Operated Vehicle)

Remotely Operated Vehicles (ROV) merupakan suatu robot jelajah bawah air yang dilengkapi tiga buah propeler dengan penempatan propeler satu buah pada bagian kanan, satu buah di bagian kiri, serta satu buah pada bagian tengah. Propeler ini digunakan untuk mobilisasi ROV dalam perairan. Selain itu ROV ini juga dilengkapi dengan CCTV yang berfungsi agar pengamat dapat melihat objek yang berada di dalam perairan dengan instruksi pemograman yang dikirimkan melalui laptop. Pengoperasian alat ini dihubungkan dengan komunikasi serial RS 232. Terdapat tujuh macam instruksi yang dikirimkan untuk dapat menggerakan ROV ini di dalam air yaitu maju, mundur, naik, turun, kanan, kiri dan stop. Ketujuh instruksi ini diberikan dengan penyimbolan huruf pada saat program yang dibuat di download ke dalam mikrokontroler. Kelebihan dari alat ini yaitu dapat mengamati objek yang berada dalam perairan sedangkan kelemahan dari alat ini yaitu pembuatan rangka ROV yang berbentuk kubus yang kurang fleksibel pergerakannya dalam air dan kurang proporsional untuk menopang komponen – komponen ROV ini.
Pada pembuatan ROV terdapat beberapa komponen penting yang sangat diperlukan diantaranya yaitu motor DC, driver L293D dan ATMega8535. Motor DC (Direct Current) atau motor arus searah termasuk ke dalam kategori jenis motor yang paling banyak digunakan baik dalam lingkungan industri, peralatan rumah tangga hingga ke mainan anak-anak ataupun sebagai piranti pendukung sistem instrumen elektronik. Motor ini memerlukan suplai tegangan yang searah pada kumparan jangkar dan kumparan medan dalam pengoperasiannya untuk diubah menjadi energi mekanik. Ada 3 motor yang sering digunakan dalam robot yaitu motor DC, stepper motor, dan servo motor. 
Berikut merupakan skematik dari alur cara pengoperasian ROV melalui laptop :
Pergerakan ROV sangat dipengaruhi oleh bentuk casing dari wahana ini yang berbahan besi. Bentuk ROV yang dibuat merupakan rangka kubus. Bentuk tersebut dibuat tanpa adanya penutup pada tiap sisi yang bertujuan untuk meminimalisir tekanan yang disebabkan oleh keadaan fisik perairan. Bentuk ini dipilih untuk mengurangi massa akhir dari ROV. Namun, bentuk tersebut tergolong memiliki nilai fleksibilitas rendah dalam pergerakannya di air. Selain itu, kelemahan lainnya adalah bentuk kerangka ROV ini tidak proporsional karena ukuran rangkanya terlalu kecil untuk menopang tiga propeler dan satu CCTV. 
Agar ROV dapat mengapung di peraian maka kerangka ROV dipasangkan gabus sebagai alat bouyancy. Kendala yang dihadapi yang menyebabkan pembuatan ROV tidak berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya terdiri dari sulitnya menemukan bentuk dan ukuran propeler yang sama untuk pemasangan propeler kanan dan kiri pada ROV, kendala dalam pembuatan program untuk dapat menghubungkan antara ROV dengan PC memakan waktu cukup lama karena dibutuhkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai simbol-simbol serta syntax yang perlu dimasukkan dalam pengaturan ROV, terpotongnya waktu karena liburan akhir tahun, serta adanya praktikum lapang. Pencarian bentuk propeler pada bagian kanan dan kiri dengan ukuran sama merupakan kendala utama yang menyebabkan mundurnya jadwal pembuatan alat, karena meskipun telah digunakan hair dryer yang sama model, merk, dan ukurannya namun tidak menjamin motornya (Propeler) sama. Sehingga perlu dilakukan upaya-upaya untuk menyeimbangkan ketiga propeler tersebut sehingga bisa bergerak ke arah yang kita inginkan. Selain itu penggunaan kabel yang banyak dapat menimalisir dalam pergerakan wahana ini. Namun hal tersebut tidak menghalangi pencapaian tujuan awal kelompok 2 dan 8, yaitu pembuatan ROV. 
Pada pengaturan keseimbangan hidrostatis atau buoyancy, dilakukan dengan cara estimasi berat ROV dengan gaya ke atas yang ditimbulkan oleh air saat ROV dimasukkan kedalam air. Cara ini digunakan karena kami belum begitu memahami bagaimana penerapan hokum Archimedes terhadap ROV. 
CCTV yang terpasang pada ROV, memilik tampilan yang cukup baik, hanya saja terdapat sedikit ketidakjelasan pada bagian kaca depan. Hal ini didiga karena pemantulan gelombang cahaya terhadap dinding-dinding dalam kepala senter yang bersifat memantulkan cahaya yang menimbulkan bias. 



Disusun oleh:
Nisa N, Priagung W, Anstayn N, Rizky H, Hari A, Meilani P, Riandi E, Verlin A, Danu A, Hakiki R

Rabu, 29 Juni 2011

Instrumen Intensitas Cahaya Digital

Cahaya merupakan suatu bagian yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Kecerahan merupakan salah satu parameter yang biasa diukur dalam berbagai kegiatan pengamatan atau penelitian, salah satunya dalam instrumentasi kelautan. Untuk mengetahui seberapa besar intensitas cahaya, dibutuhkan suatu alat ukur cahaya yang dapat digunakan untuk mengukur besar cahaya dalam satuan lux. ICA adalah alat sederhana yang digunakan untuk mengukur besar intensitas cahaya di suatu tempat. Alat ini dibuat dengan menggunakan sensor cahaya berupa LDR yang dirangkaikan dengan menggunakan mikrokontroler ATMega 8535. Alat ini berbentuk kubus dengan casing kayu dan memiliki korelasi sebesar 87 % dengan lux meter, serta galat eror sebesar 17 %. Nilai korelasi ini menunjukkan alat ini cukup baik sebagai alat ukur intensitas cahaya.
Komponen utama dalam alat ini adalah LDR dan mikrokontroler, dimana LDR berfungsi sebagai penerima rangsang cahaya. Ketika cahaya mengenai LDR maka intensitas cahaya tersebut masih berupa arus dalam rangkaian pembagi tegangan. Informasi ini kemudan diolah dalam mikrokontroler. Oleh mikrokontroler sinyal analog diubah mnjadi sinyal digital, barulah sinyal digital ini ditampilkan / didisplaykan oleh LCD. Semua kebutuhan energi perangkat-perangkat yang ada dipasok oleh catu daya. Berikut adalah diagram alir prinsip kerja ICA.

Berikut ini adalah desain ICA
Keterangan :
a= sensor LDR
b= LCD
c= saklar on/off
d= DT combo AVR ATMega8535
e= battery 9 v

Rangkaian mikrokontroler ATMega 8535 disusun sesuai kebutuhan berdasarkan datasheet yang ada. Port C adalah port yang dipakai dalam rangkaian ini sesuai dengan program terlampir. Kemudian untuk LCD digunakan adalah LCD monochrome 2x16 bit yang dirangkai berdasar fungsi-fungsi setiap port yang ada.

Hasil pengukuran intensitas cahaya dapat dilihat pada LCD dibagian atas ICA. Sumber tegangan berasal dari baterai dengan tegangan 9 volt. Setelah dilakukan pengukuran dengan ICA dan Lux meter (kaliberasi), diperoleh nilai sebagai berikut.

Berdasarkan hasil kaliberasi antara ICA dan Lux meter, diperoleh nilai R2 sebesar 0.870. nilai ini menunjukkan bahwa korelasi antara ICA dan Lux meter adalah sebesar 87.0%. Dengan nilai presentase korelasi ini, dapat diketahui bahwa terdapat korelasi antara ICA dengan Lux meter sebesar 87%. Sehingga, kemampuan ICA untuk memunculkan nilai hasil pengukuran yang akurat dengan Lux meter cukup baik.

Gambar Alat

Disusun oleh: 
Hikmah C, Bagus B, Conny A, Nurhidayah S, Hidayanto A, Reffa P, La Elson, Suhaidi, Irfan I, Afwan S, Tonny A






Selasa, 28 Juni 2011

Scaning 7 segmen, dot matrik, dan keypad

Scanning digunakan untuk menghemat penggunaan pin I/O mikrokontroler. Pada prinsipnya scanning adalah teknik yang bergantian. Misalnya, kita ingin menampilkan 8 angka pada 7 segment, maka nyala lampu pada 7 segment dibuat bergantian sehingga jalur data dapat digunakan secara bersamaan oleh kedelapan 7 segment tersebut. Proses bergantian ini dilakukan sangat cepat sehingga mata manusia seoalah-olah akan melihat kedelapan 7 segment menyala.
Secara program scanning dapat dilakukan dengan cara polling maupun timer. Cara polling dilakukan dengan menjalankan program scanning secara terus menerus dimana program scanning biasanya diletakkan di program utama. Jika pada program utama terdapat terdapat program lain yang membutuhkan waktu pengerjaan yang lama, maka program untuk scanning akan teganggu. Sedangkan, cara timer lebih efektif dan efisien sebab mikrokontroler dapat mengerjakan program lain tanpa mengganggu scanning.

a. 7 Segment
Seven segment merupakan LED yang disusun sedemikian rupa sehingga penyalaan LED tertentu pada 7 segment dapat menampilkan angka 0 sampai 9 dan huruf biasanya A sampai F. Tipe 7 segment ada dua macam, yaitu common anode (anoda bersama) dan common cathode (katoda bersama). Pada 7 segment common anode semua anode disatukan secara paralel dan dihubungkan ke VCC (aktif high), pada 7 segment common cathode semua cathode disatukan secara paralel dan dihubungkan ke ground (aktif low). Gambar 1 menunjukkan tampilan 7 segment. Gambar 2 menunjukkan 7 segment common anode dan cathode.
Pada teknik scanning 7 segment, masing-masing pin a, b, c, d, e, f, g, dan dot pada semua 7 segment digabungkan menjadi satu kemudian dihubungkan ke port mikrokontroler. Masing-masing pin common 7 segment dihubungkan ke sebuah driver yang dikontrol oleh sebuah pin I/O mikrokontroler. Driver digunakan untuk memilih 7 segment mana yang akan dihidupkan. Jadi pin I/O mikrokontroler yang dibutuhkan sebanyak 8 pin untuk data (segment a, b, c, d, e, f, g, dan dot) dan ditambah jumlah common pada 7 segment yang akan digunakan.
Untuk menyalakan segment (a, b, c, d, e, f, g, dan dot) pada 7 segment dengan cara memberi tegangan dimana terdapat selisih tegangan yang positif antara kaki anode (A) dengan kaki cathode (K). Untuk menyalakan 7 segment common anode, yaitu dengan cara memberi tegangan yang mana terdapat selisih tegangan yang positif antara kaki common dengan kaki a, b, c, d, e, f, g, dan dot. Jika 7 segment dihubungkan ke mikrokontroler dibutuhkan 8 pin I/O. Semua pin a, b, c, d, e, f, g, dan dot langsung dihubungkan ke prt mikrokontroler melalui resistor pembatas arus, dengan common 7 segment anode dihubungkan ke VCC. Seandainya dibutuhkan 7 segment sebanyak 8 buah untuk penampil, maka prot mikrokontroler tidak akan mencukupinya, untuk itu digunakan cara scanning. Teknik scanning digunakan apabila terdapat minimal 2 buah 7 segment.

contoh program 7 segmen:
#include 
#include 
char urutan [5] = {0xC7, 0x88, 0xC6, 0x89, 0x88};
char urutan2 [5] = {0x88, 0xC6, 0x89, 0x88, 0xC7};
char x, y;

void main (void)
{
PORTB=0xFF;
DDRB=0xFF;
PORTC=0xFF;
DDRC=0xFF;
while(1)
{
{
for (x=0; x<5; x++)
{
for (y=0; y<5; y++)
{ 
{
PORTC=0xFF;
PORTB=urutan [x];
PORTC=0xFD;
delay_ms(15);} 
{
PORTC=0XFF;
PORTB=urutan2 [x];
PORTC=0xFE; 
delay_ms (15);}
};
};
delay_ms (1000);
} 
} 
}

b. Dot Matrix
Dot matrix disusun dari LED yang membentuk matrik. Variasi penyalaan LED tertentu secara bergantian dapat menampilkan huruf, angka, maupun gambar tertentu. Bentuk dot matrix 5x7 dapat dilihat pada gambar 2 yang terdiri dari LED yang disusun menurut baris dan kolom. Kaki anode LED pada baris dan kaki cathode LED pada kolom.
Menyalakan LED pada dot matrix harus dilakukan secara bergantian, sebab semua kaki anode LED terhubung menurut baris dan kaki cathode LED terhubung menurut kolom. Jika tidak dilakukan secara bergantian, maka LED tidak akan mendapatkan tegangan yang cukup untuk menyala. Penyalaan secara bergantian ini dilakukan dengan teknik scanning. Scanning pada dot matrix dilakukan dengan dua cara, yaitu vertikal dan horizontal. Scan secara vertikal dilakukan dari atas ke bawah atau bawah ke atas, sedangkan scanning secara horizontal dilakukan dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri.

c. Keypad
Sebuah keypad pada dasarnya adalah saklar-saklar push button yang disusun secara matriks. Saklar-saklar push button yang menyusun keypad yang digunakan kali ini mempunyai 3 kaki dan 2 kondisi. Kondisi pertama yaitu saat saklar tidak ditekan, maka antara kaki 1, 2 dan 3 saling lepas, sebagaimana terlihat pada gambar 1(a). Sedangkan kondisi kedua adalah saat saklar ditekan, maka kaki 1, 2 dan 3 akan saling tersambung.

Software Pemograman CodeVision

CodeVisionAVR merupakan salah satu software kompiler bahasa C untuk AVR. Kompiler ini umum digunakan karena dilengkapi berbagai fitur yang sangat membantu untuk keperluan pemograman AVR.CodeVisionAVR dapat berjalan di bwah sistem operasi Windows 9x, Me, NT 4, 2000, dan XP. CodeVisionAVR dapat mengimplementasikan hampir semua instruksi bahasa C yang sesuai dengan arsitektur AVR, bahkan terdapat beberapa keunggulan tambahan untuk memenuhi keunggulan spesifik dari AVR. Hasil kompilasi objek CodeVisionAVR bisa digunakan sebagai source debug dengan AVR Studio dari ATMEL.


SISTEM PROGRAMER PADA CODEVISIONAVR

Pada CodeVisionAVR terdapat berbagai macam tipe programer yang dapat digunakan. Berikut ini merupakan beberapa tipe programer yang dapat digunakan pada CodeVisionAVR.

a. Kanda Systems STK200+/300


Spesifikasi :
  • Parallel (LPT) Port Interface
  • Kompatibel dengan software yang mendukung AVR ISP In-System Programmer Kanda System STK200/300 seperti CodeVisionAVR©
  • Konektor standar Atmel
  • Beroperasi pada tegangan 3,3 - 5 V
  • Port tidak terbebani saat "Running"
  • Tersedia Pin Output untuk indikator pemrograman
  • Sistem operasi komputer: Windows® 9x/NT™ 4/2000/XP
  • Kompatibel dengan Atmel® Microcontroller seri AVR ISP, antara lain: AT90S1200, AT90S2313, AT90S2323(L), AT90S2343(L), AT90S8515, AT90S8535(L), ATmega8515(L), ATmega8535(L), ATmega16(L), ATmega162(L/U/V), ATmega169(L/V), ATtiny13, ATtiny22(L), ATtiny26(L)
b. Atmel STK500/AVRISP
Spesifikasi:
  • Beroperasi pada tegangan target 2,7V sampai 5,5V.
  • Antarmuka USB ke PC.
  • Mengambil daya dari target board  (50mA @ 5,5V). Tidak memerlukan catu daya tersendiri dan aman bagi PC jika terjadi hubungan singkat pada target  board.
  • Menggunakan protokol ATMEL STK500/AVRISP dengan baud rate 115200 bps.
  • Kompatibel dengan perangkat lunak AVR Studio©, CodeVisionAVR©, AVRDUDE (WinAVR), BASCOM-AVR©, dan perangkat lunak lain yang mendukung protokol ATMEL STK500/AVRISP.
  • Kompatibel dengan Windows® XP/Vista
c. Atmel STK600

d. Atmel AVRISP MkII (USB)

e. Atmel AVRProg (AVR910)

CARA MENGATUR TIPE PROGRAMER YANG DIGUNAKAN
  1. Pilih menu Settings lalu pilih Programmer.
  2. Pilih tipe programmer (contoh: Kanda Systems STK200+/300) lalu klik Ok.


SISTEM TERMINAL PADA CODEVISION AVR
Cara mengatur tipe terminal yang digunakan:
  1. Pilih menu Settings lalu pilih Terminal.
  2. Tentukan Port, Baud rate, Data bits sesuai dengan tipe Terminal yang digunakan. Untuk Port dapat dilihat di Device Manager.




Senin, 30 Mei 2011

Resirculation Water System

1. Apakah air yang digunakan dalam resirkulasi perlu diganti?
Air yang dipergunakan dalam sistem resirkulasi tidak perlu diganti. Yang perlu dilakukan hanyalah menambahkan air, itupun hanya dalam jumlah yang sedikit untuk mengganti volume air yang hilan. Air yang digunakanpun harus melalui tahap karantina. Air yang berasal dari laut dan air tawar ditampung dalam kolam karantina untuk selanjutnya dialirkan ke kolam perlakuan dan bermuara ke tambak-tambak. Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan klorin di kolam karantina agar air yang digunakan terbebas dari carrier penyakit. Dosis klorin yang digunakan pada aplikasi pertama adalah 3 ppm dengan tujuan agar crustaceae yang dapat menjadi carrier penyakit dapat dimusnahkan. Pada aplikasi kedua digunakan klorin sebanyak 1,5 ppm dengan tujuan untuk menghancurkan telur-telur crustaceae tersebut (Yudha, 2005).

2. Apakah kita boleh memelihara lebih dari satu jenis biota?
Dalam resirkulasi water sistem kita boleh memelihara lebih dari satu jenis biota. Akan tetapi biota yang akan dimasukan tidak akan mengganggu biota utama yang dipelihara, bukan merupakan predator maupun kompetitor dari biota utama. Akan lebih baik jika biota tambahan yang dimasukkan merupakan bakteri yang dapat mengurai bahan-bahan organik yang tidak diperlukan yang dapat menjadi toksik dalam sistem. Selain itu biota yang ditambahkan sebaiknya adalah biota yang merupakan predator dari biota-biota yang bersifat patogen.

3. Sebutkan proses-proses pada setiap filter!
a. Filer biologi
Filter biologi atau biofilter merupakan filter yang terdiri dari media tempat bakteri dapat hidup (Helfrich dan Libey, 2003). Sedangkan menurut Akbar (2003), biofilter adalah alat untuk memelihara mikroorganisme yang berguna dalam proses nitrifikasi. Biofilter yang dimaksud disini adalah penggunaan bioball sebagai media tumbuhnya bakteri. Yayat dan Bambang (2002), menyatakan bahwa sistem bakteriofiltrasi dapat mereduksi senyawa-senyawa toksik seperti amonia dan nitrit di dalam air. Reduksi yang paling nyata tampak pada kadar amonia. Turunnya kadar amonia tersebut disebabkan karena terjadinya pemecahan amonia menjadi nitrit oleh bakteri Nitrosomonas. Kadar nitrit dalam air juga menurun. Nitrit dalam sistem penyaring biologis akan diubah oleh bakteri Nictrobacter menjadi nitrat, selanjutnya dalam kondisi anaerob akan diubah menjadi nitrogen (Coklin dan Chang, 1983). Proses nitrifikasi terhadap sisa pakan dan feses dalam biofilter yang menghasilkan NH 4-, NO2-dan NO3- serta melibatkan bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter dapat dilihat pada gambar dibawah ini.


Proses Nitrifikasi (modifikasi dari Baclaski, 2002)

b. Filter fisik
Berfungsi untuk menyaring limbah padat berdasarkan ukurannya, dimana limbah yang berukuran partikel besar tidak dapat melewati filter. Selain itu, filter karang juga dapat berfungsi sebagai media atau substrat bagi koloni bakteri-bakteri pengurai sehingga juga dapat berfangsi sebagai biofilter. (Yayat dan Bambang, 2002).
c. Filter kimia
Berfungsi untuk mengikat kation amonia. Absorpsi merupakan suatu proses dimana suatu partikel terperangkap kedalam struktur suatu media dan seolah-olah menjadi bagian dari keseluruhan media tersebut. Proses ini dijumpai terutama dalam media karbon aktif. Karbon aktif memiliki ruang pori sangat banyak dengan ukuran tertentu. Pori-pori ini dapat menangkap partikel-partikel sangat halus (molekul) dan menjebaknya disana. Dengan berjalannya waktu pori-pori ini pada akhirnya akan jenuh dengan partikel-partikel sangat halus sehingga tidak akan berfungsi lagi. Sampai tahap tertentu beberapa jenis arang aktif dapat di reaktivasi kembali, meskipun demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali pakai. Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung dari metode aktifasi sebelumnya. (Edhi,2001)

4. Sebutkan komponen-komponen tambahan yang sering digunakan!
a. Bak pemeliharaan ikan / tangki kultur (growing tank) yaitu tempat pemeliharaan ikan, dapat dibuat dari plastik, logam, kayu, kaca, karet atau bahan lain yang dapat menahan air, tidak bersifat korosif, dan tidak beracun bagi ikan.
c. Penyaring partikulat (sump particulate) yang bertujuan untuk menyaring materi padat terlarut agar tidak menyumbat biofilter atau mengkonsumsi suplai oksigen.
c. Biofilter merupakan komponen utama dari sistem resirkulasi. Biofilter merupakan tempat berlangsungnya proses biofiltrasi beberapa senyawa toksik seperti NH4+ dan NO2-. Pada dasarnya, biofilter adalah tempat bakteri nitrifikasi tumbuh dan berkembang.
d. Penyuplai oksigen (aerator) yang berfungsi untuk mempertahankan kadar oksigen terlarut dalam air agar tetap tinggi.
e. Pompa resirkulasi (water recirculation pump) yang berfungsi untuk mengarahkan aliran air.
f. Termometer yang berfungsi untuk mengetahui suhu pada akuarium.

5. Jelaskan prinsip kerja gravitasi untuk mengeluarkan air dalam resirkulation water system!
Air yang berisi limbah organik (sisa pakan dan kotoran ikan) dialirkan ke bak pengendapan. Dalam bak, partikel organik yang berukuran besar dan tidak terlarut akan mengendap akibat adanya perlambatan air. Endapan akan dibuang secara teratur melalui saluran pembuangan yang ada di dasar bak.
Sementara limbah berukuran kecil yang tidak mengendap akan diteruskan ke bak filter I. Dalam bak filter ini, air bergerak dari bawah keatas. Kemudian lapisan karang akan menyaring limbah padat, sedangkan lapisan arang akan mengikat kation ammonia. Proses ini diulang pada bak filter II, sehingga air yang keluar menjadi bersih dan bebas dari zat beracun.


Daftar Pustaka

Akbar, R. A., (2003), “Efisiensi Nitrifikasi dalam Sistem Biofilter Submerged Bed, Trickling Filter dan Fluidized Bed”, Skripsi Sarjana Biologi, Institut Teknologi Bandung.

Baclaski, B. 2002. Biofilter Conditioning by Addition of Ammonium Hydroxyde, Harbor Branch Oceanographic Institution, IRCC, FAS 2360 Water Quality & System Operation.

Coklin, D. E. dan E. S. Chang. 1983. Grow out Techniques for American Lobster Humarus americanus. In J. P. MacVey. CRC Handbook of Mariculture, Vol. 1. CRC Press Inc., Boaca Raton, Florida.

Edhi, W.A. 2001. Dari Closed Recirculation System ke Closed System. Mitra Bahari No. 2 Thn. VI: 51-52.

Sudrajat, Yayat dan Bambang. 2002.Sistem BakterioFiltrasi sebagai Sarana Pasokan Air pada Penampungan Ikan Hidup.Buletin Teknik Pertanian, Vol. 7.

Yudha, Indra Gumay. 2005. Aplikasi Sistem Resirkulasi Tertutup (Closed Resirculation System) dalam Pengelolaan Kualitas Air Tambak Udang Intensif. Seminar Hari Air Sedunia 2005. Lampung

Reduksi dan Oksidasi Sedimen Laut

Dasar laut pada umumnya terdiri atas material pasir yang didominasi oleh kuarsa yang sukar lapuk. Di perairan dangkal yang landai serta terdapat muara sungai, pasir dapat dilapisi oleh sedimen halus. Lapisan ini banyak mengandung bahan organik yang  terikut dalam aliran sungai. Keberadaan bahan organik menyebabkan terjadinya proses penguraian.
    Pada suasana reduktif dan  kaya bahan organik, lumpur laut akan berwarna kelabu gelap sampai kehitaman. Tahapan reduksi berikutnya menyebabkan sulfat yang terdapat dalam air laut juga dapat direduksi menjadi sulfide dengan ciri berbau busuk. Bila bahan sedimen cukup lama berada dalam laut akan terjadi transformasi tipe mineral lempung yang semula daya ikat (adsorption) nutrisi rendah menjadi lebih tinggi. Nutrisi juga dapat diikat dan disediakan oleh bahan organik.
    Air laut mengandung berbagai garam, utamanya garam dapur (NaCl), di samping itu terdapat juga garam lain berupa kombinasi kation basa (K, Ca, Mg) dan anion sulfat, bikarbonat dan klor. Kandungan ion tersebut dapat mencapai 500 me/l yang merupakan suatu kondisi tingkat kegaraman yang sangat jauh di atas kondisi tanah pertanian pada umumnya.
    Proses dekomposisi diantaranya oksidasi, reduksi, solusi (larut), hidrasi, dan hidrolisis. Oksidasi adalah proses dimana bilangan oksidasi (valensi) suatu ion meningkat sedangkan reduksi adalah kebalikannya. Salah satu proses oksidasi yang umum pada pelapukan yaitu oksidasi pada besi. Contohnya adalah magnetit, suatu mineral yang umum ditemukan pada batuan beku, sedimen dan metamorf yang berubah menjadi mineral hasil pelapukan yang umum yaitu hematite.
4Fe2O3.FeO + O2 6 Fe2O3
Magnetit + Oksigen hematite
(Contoh proses reduksi yaitu pembentukan pirit pada kondisi anaerobik)
    Air berperan sebagai pelarut atau reaktan dalam proses dekomposisi. Contohnya air dan asam pada larutan merupakan dua agen pelarut utama. Pelarutan adalah proses yang mana material yang dapat larut terlarut, atau pecah menjadi ion. Contohnya yaitu dekomposisi pada piroksen:
(Mg, Fe, Ca)SiO3 + 2 H+ + H2O.Mg2+ + Fe2+ + Ca2+ + H4SiO4
Piroksen + Ion Hidrogen + air Ion Mg, Fe, Ca + molekul silicic acid
      Reaksi yang sama terjadi pada mineral ferromagnesian silicates yang lain. Ion Ca, Mg dan silicic acid yang dihasilkan pada reaksi ini tertransportasikan jauh melalui larutan,sedangkan ion Fe mungkin mengalami oksidasi atau hidrasi atau keduanya dan terpresipitasi sebagai hematite atau geotit. Hal yang sama, mineral karbonat terlarutkan menghasilkan ion Ca, Mg dan molekul bikarbonat, yang semuanya tertransportasi sebagai larutan.
Air juga penting dalam hidrasi dan hidroslisis. Hidrasi adalah reaksi air dan komponen yang lain yang menghasilkan fase lain. Contohnya, goetit yang dihasilkan dari hematite melalui reaksi hidrasi:
Fe2O3 + H2O.2FeOOH
     Hidrolisis adalah reaksi kelebihan H+ atau OH- yang dihasilkan reaksi yang bersangkutan. Reaksi hidrolisis terlihat sebagai reaksi penggantian kation suatu struktur mineral oleh hydrogen. Contohnya, pelapukan olivine menjadi silicic acid, ion Fe dan Mg, dimana hydrogen menggantikan Mg dan Fe.

(Mg, Fe)2SiO4 + 4H2O.xMg2+ + 2xFe2+ + H4SiO4 + 4(OH)-
Hal yang sama terjadi pada hidrolisis feldspar dan segera setelah itu membentuk mineral lempung kaolinit:
KAlSi3O8 +H2O à HAlSi3O8 + K+ + OH-
2 HAlSi3O8 + 9 H2O à Al2Si2O5(OH)4 + 4 H4SiO4
      Setiap proses dekomposisi adalah perubahan mineral yang tidak stabil pada permukaan bumi berubah menjadi mineral, molekul, atau ion yang lebih stabil dibawah kondisi permukaan. Produk utama pada proses ini yaitu kuarsa, mineral lempung, oksida besi, dan ion seperti Ca2+ dan Mg2+.. Tiga produk hasil pelapukan karbonat berupa ion Ca dan Mg-, Mineral lempung, dan kuarsa serta opal dihasilkan dari proses yang kira-kira sama dengan umur bumi yaitu 4,5 miliar tahun.
Kestabilan relatif dari mineral selama proses pelapukan dikemukakan oleh Goldich (1938) yang merupakan kebalikan dari Deret Bowen. Dia menemukan bahwa Olivine, Augite (klinopiroksen), dan Ca-plagioklas lebih mudah terlapukan dibandingkan dengan kuarsa dan muskovit. Walaupun secara umum hal ini benar, proses pelapukan lebih rumit dari perkiraan. Hal lain yang mempengaruhi adalah iklim, mikroba dan tanaman dan asam yang dihasilkannya. Olivine, augite, dan plagioklas mengandung unsur Mg, Na, K, Ca, yang mudah telepas melalui pemecahan ikatan ion dengan oksigen. Si, Al, dan Ti membentuk ikatan kovalen dengan oksigen yang lebih sulit untuk pecah, yang mencegah pemecahan mineral seperti kuarsa.
     Transportasi sedimen dimulai ketika material terlapukan dan ion terlarut. Transportasi material yang terlarut disebut transportasi larutan, sedangkan material padat tertransportasi melalui transportasi mekanik. Transportasi mekanik di antaranya falling, sliding, rolling, bouncing(saltation), flowing dan transportasi supensi.  Transportasi sedimen tergantung pada sifat fisik dari agen transportasi, sifat material, sifat fisik dari campuran agen transportasi dan material, dan gaya yang menyebabkan transportasi. Agen transportasi diantaranya gravitasi, air mengalir, angin dan es yang bergerak. Gravitasi tidak hanya menyebabkan pergerakan material tetapi juga menggerakan arus air dan es untuk bergerak turun. 

Membuat Alat Pengukur Suhu Digital

Assalamualaikum Wr. Wb.
Ok, pertama-tama saya kenalin dulu sensor yang mau dipake. Sensor suhu DS18B20 merupakan suatu komponen elektronika yang bisa menangkap perubahan suhu untuk kemudian dikonversikan menjadi besaran listrik. Sensor ini menggunakan 1 wire untuk berkomunikasi dengan mikrokontroler. Uniknya, sensor ini  memiliki kode serial yang berbeda sehingga bisa digunakan lebih dari satu dalam satu komunikasi 1 wire.
Spesifikasi sensor suhu DS18B20 seperti dibawah ini:
  • 1-Wire ® interface dan hanya memerlukan satu pin port untuk komunikasi secara 1-Wire
  • setiap perangkat memiliki kode serial 64-bit yang disimpan dalam sebuah ROM onboard
  • ga memerlukan ada komponen tambahan
  • bisa bekerja pada kisaran tegangan 3 sampai 5,5V
  • bisa mengukur suhu pada kisaran -55 sampai 125 °C
  • akurasinya ± 0,5°C akurasi dari suhu  -10 sampai 85 °C
  • resolusi dapat dipilih oleh pengguna antara 9 sampai 12 bit
  • recepatan mengkonversi suhu maksimal 750 ms
  • kompatibel dengan software Codevision AVR
Selain sensor, kita juga perlu mikrokontroler sama LCD 2×16. Mikrokontroler untuk memprosesnya, LCD berperan sebagai displaynya.
Selanjutnya hubungkan Pin yang ada pada LCD ke Pin di Mikrokontroler seperti dibawah ini. LCD bisa dipasang di port mana aja, tapi ntar dirubah lagi di programnya.
PORTC.0 = RS (LCD pin 4)
PORTC.1 = RW (LCD pin 5)
PORTC.2 = E (LCD pin 6)
PORTC.3 = Free
PORTC.4 = DB4 (LCD pin 11)
PORTC.5 = DB5 (LCD pin 12)
PORTC.6 = DB6 (LCD pin 13)
PORTC.7 = DB7 (LCD pin 14)
Selanjutnya hubungnya sensornya ke mikrokontroler dengan ketentuan seperti dibawa ini. Sebenernya bisa di pin mana aja selain yang sudah dipake LCD, tapi ntar diganti lagi di programnya. Oiya, jangan lupa menambahkan resistor 10 kilo ohm pada outputnya (pin 2 dari sensor) sebelum ke mikrokontroler.
Pin 1 = Ground
Pin 2 = PORTB.0
Pin 3 = VCC 5 V
Kalo rangkaiannya udah jadi buka codevision-nya terus bikin project. Pilih aja yang tanpa code wizard. Terus Copy progam dibawah ini dan paste ke codevision yang tadi dijalanin.
//////////////////////////////////////////////////////////////////
#include
#include <1wire.h>
#include
#include
#include
#include
#define MAX_DS1820 8
#asm
.equ __lcd_port=0×15 ;PORTC
#endasm

unsigned char ds1820_devices;
unsigned char ds1820_rom_codes[MAX_DS1820][9];
char lcd_buffer[33];

void main(void)
{
unsigned char i,j;
int temp;
w1_init();
ds1820_devices=w1_search(0xf0,ds1820_rom_codes);
lcd_init(16);
while (1)
   {
   for (i=0;i<ds1820_devices;i++)
      {
      temp=ds1820_temperature_10(ds1820_rom_codes[i][0]);
      j=’+';
      if (temp<0)
        {
        j=’-';
        temp=-temp;
        };
sprintf(lcd_buffer,”t%u=%c%i.%u\xdfC”,++i,j,temp/10,temp%10);
lcd_clear();
lcd_puts(lcd_buffer);
delay_ms(800);
};
}
}
//////////////////////////////////////////////////////////////////
Setelah itu download programnya ke mikrokontrolernya..
udah bisa belum? kalo belum bisa silahkan tanya di coment dibawah ini. Insyaallah saya jawab.
Sekian dulu ya, saya mau jumatan dulu.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
 
Copyright © 2011. Who lives in fear will never be free man . All Rights Reserved
Home | Contact | Facebook | Twitter | Term of use | Widget | Site map
Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates